Uncategorized

[REVIEW] Hada Labo Ultimate Whitening Cream

Hellowww

Kali ini gue mau bikin review produk lagi! Setelah sekian lama, akhirnya gue membulatkan tekad untuk menulis ulasan tentang produk-produk kecantikan. Dari dulu kiblat gue kan ke K-Beauty, ya. Nah, kali ini, bertepatan dengan habisnya moisturizer gue yang enak banget itu, gue ingin mencoba pelembab baru yang cukup terjangkau dan bisa langsung dibeli, nggak perlu nunggu di olshop. Pilihan gue jatuh kepada merek Hada Labo. Dulu gue pernah nyobain satu set Shirojyun Series yang terdiri dari cleanser, toner, dan lotion waktu gue SMP. Gue nyobain itu karena dapet sampel yang dikirimin ke rumah gue hehe. Kesan gue sih biasa aja. Nggak ada efek apa-apa malah cenderung nggak cocok di kulit gue. Tapi gue berminat untuk mencoba lagi.

Gue memutuskan untuk beli di Watson Margo City karena deket sama kosan gue. Sebelum beli, tentunya gue baca review dari blog orang dan Female Daily dulu. Awalnya gue mau beli yang 3D Gel Cream yang kemasannya warna pink itu. Tapi pas gue sampe di Watson, gue tanya mbak-mbaknya katanya habis. Yang tersisa adalah kemasan yang mirip tapi warna biru, tulisannya Ultimate Whitening Cream. Karena nggak ada pilihan lain, akhirnya gue beli yang itu. Harganya kurang-lebih Rp90.000, gue lupa tepatnya berapa.

Sampai di kosan, gue baru liat di boxnya ada tulisan Night Cream. Jiah. Gue kan nyarinya moisturizer biasa. Gue masih punya banyak sleeping pack yang nggah habis-habis dari tahun kemarin. Takutnya Night Cream ini kalau dipake siang-siang terlalu berat dan bikin berminyak. Tapi, mari kita kesampingkan dulu kekecewaan karena kekurangtelitian ini dan coba produknya.

IMG_4734

Seperti yang terlihat di foto, box produk ini cukup simple dan cuma berisi tulisan-tulisan. Sesuai namanya, krim ini berfungsi untuk mencerahkan wajah dengan kandungan Vitamin C dan Arbutin serta Hyaluronic Acid untuk melembabkan kulit. Ya gue sih skeptis-skeptis aja ya. Secara tujuan gue beli pelembab itu ya sesimpel untuk melembabkan. Kalau bisa mencerahkan itu bonus. Awalnya gue ragu untuk pake krim ini siang-siang karena katanya ada kandungan Vitamin C yang photosensitive. Tapi setelah lihat komposisinya, Vitamin C-nya dalam bentuk Magnesium Ascorbyl Phosphate yang merupakan derivat dari L-Ascorbic Acid dan terletak nomor dua paling bawah. Gue nggak percaya kandungan seperti itu Vitamin C bisa bikin perubahan ke kulit, makanya gue yakin kalau nggak apa-apa dipakai siang hari, tentunya setelahnya harus pakai sunblock, dong.

Setelah box dibuka, tampaklah kemasan berbentuk jar yang cukup kecil. Oh iya, krim ini isinya 40g. Banyak orang yang mempermasalahkan kemasan jar gitu karena rawan kontaminasi. Gue pribadi memang lebih suka kemasan tube atau botol sih. Tapi karena gue orangnya higenis dan kalau mau pakai apa-apa harus cuci tangan dulu, jadi nggak masalah.

IMG_4738

Teksturnya ini pas gue coba di tangan cukup ringan dan terkesan watery. Tapi waktu gue pake di muka, yang terasa adalah sifat occlusive-nya. Kesannya wajah lo itu diselimuti sama selubung yang akan menjaga agar jangan sampai kelembapan dari wajah lo menguap atau terjadi Transepidermal Water Loss. Krim ini juga lumayan lama meresapnya. Setelah gue tepuk-tepuk juga belum meresap. Karena pertama gue pake sebelum tidur, gue tunggu meresap dulu supaya nggak transfer ke bantal. Tapi ditungguin kok masih lengket aja. Akhirnya ya udah gue tinggak tidur dengan harapan produknya nggak terakumulasi di bantal gue.

IMG_4741

Setelah bangun tidur, bener sih, gue merasa muka gue lembab dan kenyal banget. Muka gue jadi agak berminyak dan masih ada sisa-sisa lengketnya, walaupun berkurang jauh dari semalam. Waktu gue cuci muka, masih terasa licin gitu yang artinya masih banyak residu yang “duduk” di muka gue, nggak terserap sepenuhnya.

Untuk pagi hari, gue coba aplikasikan dikiit banget dan gue tepuk-tepuk lagi. Setelah nunggu sekitar 5 menit, baru pakai sunblock. Hari itu sih gue merasa baik-baik aja dan nggak ngerasa terlalu berat atau gimana. Justru gue ngerasa dengan teksturnya yang lengket bisa jadi primer juga kali ya, haha. Setelah beberapa hari pemakaian, gue menyadari wajah gue lebih cerah sedikit. Lumayanlah. Tapii, di dagu gue jadi muncul jerawat kecil-kecil gitu huhu. Satu tempat bisa ada tiga jerawat loh, guys. Gue curiga karena terlalu “membungkus”, krim ini jadi menyumbat pori gue.

Akhirnya gue stop dulu pemakaiannya untuk sementara waktu buat ngilangin jerawat. Sayang juga sih udah dibeli kalau nggak dipakai. Setelah jeda beberapa saat, gue coba pakai lagi tipis-tipis dan nggak tiap hari. Gue mau tetap pakai karena selain sayang kalau dibuang, krim ini memang beneran mencerahkan dan bikin muka gue glowing gitu sih.

Oke deh. Segitu aja ulasan gue. Kayaknya gue dan Hada Labo emang nggak terlalu cocok. Tapi gue masih penasaran sih sama yang 3D Gel Cream itu. Mungkin akan gue coba lain kali. Nah, kalau kalian punya moisturizer holy grail gitu nggak? Ceritain dong!

Advertisements

Brownies Terenak Sedunia

Kalian sering nggak sih, kalau siang-siang lagi nggak ada kerjaan tiba-tiba kepingin sesuatu? Waktu puasa gini sih gue sering banget. Pastinya kepinginnya nggak jauh-jauh dari makanan. Nah, salah satu makanan yang nggak berhenti bikin gue craving itu adalah brownies, apapun jenis dan mereknya. Entah kenapa gue sukaa banget sama brownies. Kalau ibu gue ke Bandung gue musti banget nitip Primarasa. Tipe brownies favorit gue itu adalah yang agak kering di luar tapi soft and chewy di dalam.

Hobi gue selanjutnya adalah nyari toko brownies online di Instagram, wkwk. I know, gabut banget, kan. Nah, ketemulah gue sama olshop namanya Bearly Baker. Kalau nggak salah waktu itu Titan Tyra dikirimin browniesnya. Kelihatannya enaak banget. Ada berbagai macam topping dan semua browniesnya menggunakan cokelat Belgia. Nggak tahan dong gue kalau nggak beli. Setelah melihat-lihat harganya yang menurut gue cukup mahal, gue akhirnya memutuskan untuk membeli yang Mix 12pcs. Harganya Rp120.000. Satu potong Rp10.000 haha mahal banget yak. Kalau di kantin kampus gue udah bisa makan nasi padang nasi pake telur dadar, perkedel, daun singkong, sambal, kuah rendang, dan kuah gulai.

Ini gue nggak bermaksud jadi food blogger jadi-jadian, ya. Brownies ini gue beli pakai uang gue sendiri. Ya iyalah, siapa juga yang mau ngirimin makanan gratis ke gue. Gue murni lagi pengen aja nulis blog tentang sesuatu yang gue sukai.

Nah, pesanlah gue melalui WA. Adminnya cukup fast respond. Dia menjelaskan ke gue kalau pengirimannya dari Mangga Besar, Jakarta Utara dengan menggunakan layanan Go-Send. Gue mikir dikit. Apa nggak mahal tuh pake Go-Send? Gue tanya kan gabisa pake JNE apa. Terus dia bilang gabisa, kalau mau lebih ekonomis bisa pakai Go-Send yang Same Day. Dari situ gue makin nggak ngerti. Lah bukannya semua Go-Send emang dikirim di hari yang sama ya? WKWKWK maafkan gue guys ini gue emang belum pernah denger tentang servis ini sama sekali. Setelah ngecek aplikasi Gojek dan mempelajarinya, gue akhirnya tahu kalau Same Day itu lama pengirimannya bisa 6-8 jam tapi tetap dalam hari yang sama. Tarifnya flat Rp15.000 jauh-dekat. Kenapa bisa murah? Karena nggak seperti Go-Send yang biasa, Same Day ini kira-kira “ngumpulin” dulu barang yang mau diantar sebelum diantar ke tempat masing-masing. Jadi istilahnya kayak jemputan gitu, guys. Gue pun mantap memilih layanan Same Day aja karena kalau Go-Send biasa biayanya bisa sampai Rp55.000. Ini kok gue jadi promoin Gojek, ya? Ayo Pak Nadiem, hire aku jadi karyawanmu.

Gue pencet Pick Up sekitar pukul 12 siang. Cukup lama dapet drivernya. Sebelum jam 1, akhirnya dapet juga. Perkiraan gue seenggaknya sampai jam 6 sore kan. Tapi ternyata sebelum jam 3 sore udah dateng dong. Gue nggak sabar banget nunggui buka puasa. Apalagi ngeliat boxnya yang lucu banget. Karena ini bulan Ramadhan, ditambahin pita hijau lucu gitu. Gue pesen yang 12pcs kan, tapi kata adminnya boxnya lagi habis, jadinya dikirimin box yang buat 6pcs dua.

image4

Setelah gue buka, isinya begini, guys. Duh, tempting banget nggak sih? Apalagi baunya itu loh.

Waktu buka puasa, akhirnyaa gue kesampaian gue cobain. Ternyata rasanya beneran seenak itu! Teksturnya persis harapan gue. Lembut dan chewy banget! Coklatnya bener-bener terasa tapi nggak bikin eneg. Ada sedikit wangi rum tapi nggak pait, kok. Sekali buka gue langsung makan tiga potong. Enak banget.

image1

Bukan maksud gue promo ya guys, wkwk. Tapi gue mau cerita aja soal temuan baru gue yang menurut gue enak. Kalau kalian mau beli ya silakan. Gue suka banget sih. Tapi berhubung harganya cukup mahal buat gue, jadi ya nggak bisa sering-sering belinya.

Enjoy the brownie!

Bangkok Day 4

Hi, semuanya!

I know, I know. Udah lama banget gue nggak ngelanjutin cerita gue jalan-jalan di Bangkok. Udah 6 bulan huhu. Meskipun jeda waktunya terlalu lama, gue nggak akan ngebiarin series petualangan di Bangkok berakhir nanggung gitu aja tanpa ada epilognya. So, inilah cerita gue di hari keempat atau hari terakhir gue di Bangkok, Thailand.

Berhubung hari ini terakhir, agenda gue hari ini cuma ke bandara dan pulang. Kalau berangkatnya gue datang dari Don Muang Airport, pulangnya gue dari bandara utama kota Bangkok, Suvarnabhumi. Pulang melalui bandara yang berbeda tentunya membuat gue nggak punya pengalaman gimana cara menuju ke sana. Tapi sisi positifnya gue jadi bisa merasakan dua bandara berbeda dalam satu kunjungan.

Singkat cerita, gue cari di internet gimana cara termurah untuk menuju Suvarnabhumi Airport. Pencarian gue mengarah ke pilihan airport rail link. Jadi, dari penginapan gue di Phrom Phong, gue naik BTS sampai Phaya Thai. Dari situ baru naik airport rail link. Ada dua pilihan, Express Line yang langsung menuju bandara tanpa berhenti di stasiun manapun, dan City Line yang berhenti di tiap stasiun. Berhubung gue nggak buru-buru dan tentunya mempertimbangkan faktor ekonomis, gue pilih yang City Line.

1D7349E6-FD7C-4EEE-816A-85E0AA55528D

Pesawat gue boarding sekitar jam 11 siang. Gue rencana berangkat dari hostel jam 7 pagi supaya bisa sedia waktu banyak kalau-kalau nyasar atau bingung di bandara. Gue bangun jam 6 tepat. Sebenarnya malam itu gue tidur nggak terlalu nyenyak karena takut telat bangun dan sedikit-sedikit liat jam. Waktu gue bangun, kedengeran suara hujan deras banget. Padahal tiga hari kemarin panas menyengat. Mana gue nggak bawa payung demi menghemat tempat di tas. Gue cuma berharap jam 7 hujan udah reda sehingga gue bisa berangkat.

Selesai check out, hujan masih cukup deras. Daripada terlambat, gue keluarin aja baju kotor dari koper sebagai pelindung kepala. Di tengah hujan itu gue berjalan terseok-seok menuju stasiun. Jangan ditanya rasanya. Koper yang bertambah berat karena baju kotor dan oleh-oleh menyiksa banget dibawa melalui jalanan becek dan naik tangga stasiun.

Sampai di Phaya Thai, gue lumayan kebingungan gimana cara bayar rail link-nya. Setelah mempelajari sesaat, ternyata sama aja kayak bayar BTS. Bedanya kalau BTS pakai tiket, airport rail link pakai koin. Sampai di peron yang dimaksud, gue duduk tenang menunggu kereta. Di depan gue ada sepasang suami istri yang bawa koper gedee banget. Satu orang masing-masing bawa koper super gede dan si istri masih bawa koper ukuran kabin. Gue nggak ngerti lagi gimana mereka bawanya dari hotel sampai stasiun.

03062E46-7D55-4CDF-9AA5-87725F131896

Kereta pun datang. Gue sangat senang karena interior keretanya beda dari yang lain dan cukup nyaman. Karena berhenti di tiap stasiun yang dilewati, kereta hari itu cukup penuh. Tapi gue masih dapat tempat duduk. Di samping gue ada cewek Thailand cantik lagi teleponan. Gue berasa berada di film Crazy Little Thing Called Love.

Sampai bandara, gue ngikutin aja arus kemana orang pergi. Ternyata nggak membingungkan dan cukup mudah untuk menemukan konter check in dan lain-lain. Karena gue naik Malaysia Airlines, gue bisa taro koper gue di bagasi. Mbak-mbak konternya ramah banget dan senyum terus. Gue pun melanjutkan proses selanjutnya seperti body screening dan cek paspor yang ternyata lumayan lama. Gue sempat cemas juga takut mepet, tapi ternyata enggak.

9E929337-2614-468E-82AF-00B55CE8B977

Karena masih punya banyak waktu, gue jalan-jalan di area duty free. Ternyata bandara Suvarnabhumi bagus banget astaga. Beda banget sama Don Muang yang kecil. Untuk menghabiskan sisa Baht gue yang memang tinggal sedikit, gue beli aja nutella go yang kayak nyamnyam itu.

Setelah sampai ruang tunggu, ternyata pesawat gue delay. Ya sudah, mumpung internet gue unlimited gue main hape aja sambil perhatiin kru-kru pesawat dari berbagai macam airlines berlalu-lalang. Pilot, pramugari, dan pramugara di penerbagan gue juga masih santai ngobrol-ngobrol di ruang tunggu karena pesawatnya memang belum datang. Kalau begini gue jadi nyesel berangkat buru-buru sambil hujan-hujanan.

Setelah pesawat datang dan dipersiapkan oleh para kru, penumpang pun mulai boarding. Gue dapet aisle seat di samping ibu-ibu yang bawa anak kecil. Gue udah nunggu-nunggu kapan makanan dibagikan karena dari pagi baru nyemil aja haha.

Dengan delay-nya pesawat dari Bangkok ke Kuala Lumpur gue udah was-was aja takut terlambat untuk penerbangan Kuala Lumpur – Jakarta. Tapi ternyata enggak telat, kok. Soalnya penerbangan selanjutnya itu pake pesawat yang sama, jadinya delay juga haha.

34F6A31D-348A-419E-915B-D3B256797CF5

Di KLIA itu berhubung ada WiFi gratis dan bisa langsung connect, gue bisa mainan hape lagi. Di situ tiba-tiba Naura nelepon gue dan cerita tentang alumni gengges pas OLMA tiba-tiba ada di acara farewell. Di ruang tunggu itu gue duduk aja sendirian sambil ketawa-ketawa teleponan sama orang yang letaknya di beda negara sama gue (Thanks to LINE Call). Di situ gue berasa udah dewasa banget. Traveling sendirian, cuma bawa handbag kecil satu, teleponan sama temen. Ugh, udah mirip businesswoman belum?

57C172B9-EC77-4665-AB3A-30AA2EB6A310

Waktu masuk pesawat lagi gue juga merasa bangga aja gitu, bisa naik pesawat dan jalan-jalan ke luar negeri dari hasil tabungan sendiri. Uangnya sih tetap dari uang jajan yang dikasih orangtua. Begini aja gue bangga, gimana nanti traveling bener-bener pake gaji sendiri?

Gue pun sampai di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta dengan selamat dan bahagia. Perasaannya tuh sulit digambarkan. Waktu keluar pesawat, terdengar panggilan untuk seorang bapak dari Qatar Airways untuk segera boarding, karena memang pesawat tadi terlambat kan. Di situlah gue melihat Si Oryx, maskot Qatar di depan mata gue karena pesawatnya memang parkir deketan. Gue membatin, “Duh, ajak gue dong ke Doha. Liburan masih lama banget, nih.” Yah, saat ini gue memang cuma bisa berdoa. Tapi gue yakin, suatu saat nanti gue pasti bisa traveling ke tempat-tempat yang lebih jauh dengan uang gue sendiri. Trip ke Bangkok kali ini menjadi sebuah pelatihan buat gue untuk menaklukkan negara-negara lain.

Sampai di sini dulu cerita gue jalan-jalan ke luar negeri sendirian untuk pertama kalinya. Semoga tahun depan gue bisa jalan lagi, ya. Semangat untuk kita semua, pecinta traveling! Semangat nabung untuk sampai ke negeri impian!

Bangkok Day 3

Hello again, guyss! Jangan bosen-bosen ya dengerin cerita gue 🤣

Saat ini seperti biasa, gue menulis mengetik di atas tempat tidur hostel. Temen-temen sekamar gue entah anak baik-baik atau gimana, udah pada anteng dong di bed masing-masing. Yasudahlah, gue bersyukur juga sih soalnya mereka nggak berisik dan kalau tidur lampunya dimatiin #penting.

Anyway, ini hari terakhir gue jalan-jalan di Bangkok. Besok gue harus pulang dengan Malaysia Airlines jam 11 siang. Hari ini gue berencana pergi ke Ananta Samakhom Thorne Hall, Jim Thompson’s House, MBK, sama ngiter-ngiter daerah Sukhumvit.

Gue bangun udah jam 9. Setelah mandi dan siap-siap gue langsung cus jalan. Gue naik BTS sampai Victory Monument. Di petunjuk yang gue baca dari situ tinggal naik bus aja salah satunya bus nomor 28 yang akan melewati Ananta Samakhom. Waktu gue naik busnya, gue langsung duduk di sebelah bapak-bapak bule yang lagi baca buku gitu. Pikir gue kalau gue nggak tau jalannya dia bisa kasih tau kalau udah sampai tempat yang gue maksud.

Setelah bus berjalan, ada ibu-ibu yang nagih tiketnya. Seperti biasa gue tanya dong, “How much?”. Eh dia nggak ngerti. Dia nanya ke anak muda di belakang gue. Si anak muda ini nanya gue mau turun di mana. Gue jawab Ananta Samakhom. Eh si ibu nggak tau masa. Ya udah gue bilang aja “To the next stop”.

Si bapak-bapak di sebelah gue tiba-tiba nyodorin hapenya dan bukain Google Maps buat gue. Sambil berterima kasih akhirnya gue tahu kalau lokasinya nggak terlalu jauh. Dia nanya apa gue orang India. Ya kali, Pak. Gue bilang aja gue dari Indonesia. Dia cerita gitu akhirnya tentang dia. Dia mau ke suatu universitas yang letaknya lumayan jauh, mau ngelamar jadi pengajar katanya. Gue lupa nanya dia biasa ngajar apa. Katanya dia udah pernah ngajar di China juga. Dia udah tinggal di Thailand lumayan lama dan ada issues gitu sama istrinya (ini pun diceritain). Pas gue mau turun sekali lagi gue bilang makasih dan goodluck buat wawancaranya.

Gue turun di depan loket masuk Dusit Zoo. Dari Google Maps, gue tahu kalau Ananta Samakhom tinggal 10 menit jalan kaki. Gue pun berjalan mengitari kebun binatang itu. Kawasan itu agak aneh menurut gue. Daerahnya sepi dan kendaraan cuma sedikit yang berlalu-lalang. Sepi, banyak pohon dan taman-taman asri gitu. Bukan Bangkok banget, hehe.

41AD8E0D-CD0B-4F20-8314-68F58DEF92B4.jpeg

Setelah sampai di lokasi, kok bangunannya ditutupi asbes-asbes gitu (nggak tau ini namanya apa tapi yang kayak di tempat-tempat konstruksi itu loh). Gue pun curiga. Pas gue google ternyata Anantha Samakhom direnovasi sejak tanggal 1 Oktober 2017. Gue pikir, masa sih tiga bulan belum selesai juga? Dengan kecewa gue jalan lagi kali aja ada pintu masuk. Dan tetap nggak ada. Cuma ada penjaga yang lagi berganti shift gitu. Gue pun ketemu turis lain yang cuma bisa foto-foto dari luar.

DB12AFE9-BD1D-404B-9FE1-F48FE87C7D4F.jpeg

Biarpun dari luar, istana ini bagus luar biasa. Arsitekturnya beda dengan istana-istana di Thailand yang lain. Tentunya gue nggak bisa jelasin lebih lanjut karena gue cuma lihat dari luar pagarnya. Gue lumayan terhibur dengan pemandangan di depan mata gue yang indah dan asri.

Setelah puas foto-foto seadanya, gue memutuskan untuk cari halte bus karena kayaknya di daerah itu nggak ada bus yang lewat. Gue jalan terus aja. Eh makin lama makin nggak jelas. Gue nggak tau gue di mana. Belakangan gue sadar kalau ini tuh daerah militer gitu. Gimana ada bus yang lewat. Di mana-mana gue temui petugas bersenjata. Langsung aja gue keluarkan senjata milik gue, Google Maps. Di situ tertera kalau stasiun Victory Monument jaraknya 3 kilometer lagi. Ya sudah, gue pasrah jalan kaki dengan pertimbangan daripada naik bus dan kesasar lagi dan ngabisin duit.

Untungnya, hari itu panasnya nggak terlalu menyengat. Jadi lumayan deh jalan kaki setengah jam nggak sambil panas-panasan. Setelah dua puluh menit jalan gue liat tukang ojeg sih. Tapi gue nggak ngerti gimana cara ngomongnya. Dan takut kena scam juga. Jadinya jalan terus deh. Eh 6 menit sebelum destinasi, gue ketemu stasiun BTS lagi, yaitu Phaya Thai. Sambil bersyukur dengan hati riang gue menaiki tangga-tangganya. Gue pun melanjutkan perjalanan ke National Stadium, tempat Jim Thompson’s House dan MBK Center berada.

Letak Jim Thompson’s House nggak terlalu jauh dari stasiun. Tinggal jalan dikit masuk gang sampai deh. Kesan pertama yang gue liat dari luar aja udah asri banget. Pas gue masuk, gue disambut pegawainya yang ramah-ramah banget. Mereka terus-terusan ngomong “Swadeekhap” (?) yang sampai sekarang gue nggak tahu ngomong yang benernya gimana. Setelah bayar tiket masuk seharga 100 Baht, gue dimasukkan ke dalam kelompok untuk kemudian diberi guide berbahasa Inggris yang bakal menjelaskan sejarah Jim Thompson ini. Nggak usah gue jelasin lah ya. Kalian dateng aja ke sini. Recommended kok apalagi setelah jalan kaki berkilo-kilo. 🙂

Dari sana, gue langsung menuju MBK. Tempatnya sangat mudah di cari dan super deket dari Jim Thompson’s. Gue bingung masuk mall segede itu. Langsung aja gue ambil Directory dari pusat informasi. Pas liat-liat bagian makanan, gue nemu After You Dessert Cafe, tempat yang mau gue kunjungin. Langsung aja gue ke sana.

Gue pesen Shibuya Honey Toast yang baby portion seharga 175 Baht. Please pesen yang baby portion aja karena porsinya udah gede banget! Ini enak banget sih parah. Roti bakar disiram sirup maple (tuang sendiri) disajikan sama dua scoop es krim sama krim kocok. Mantap lah.

BAE4E3F2-548B-422F-94D2-AF5FFE366A9D.jpeg

Biarpun udah kenyang, gue masih mau makan yang asin-asin. Gue memberi jeda dengan beli oleh-oleh di Tops Supermarket dulu. Yang gue beli biasa aja sih, kayak mangga kering, mie tom yum, cumi kering, dan sebagainya. Lanjut, gue cari-cari tempat makan lagi. Sampailah gue ke Yana Restaurant di lantai 5. Yang punya kayaknya orang Arab atau India gitu. Restorannya hanya menyajikan menu halal. Lagi-lagi gue pesen Pad Thai saking doyannya. Dan porsi yang dateng luar biasa banyak banget :’). Gue pun nggak bisa menghabiskannya.

8A6E5783-0AD7-41FA-BD8A-878AC5ECA53B.jpeg

Gue pulang dengan perut kekenyangan dan kaki pegel. Rencana keliling Sukhumvit pun batal. Gue langsung pulang ke hostel dan tidur-tiduran aja sampai sekarang, hehe.

Besok akhirnya gue pulang! Gue betah sih, di sini. Macetnya masih biasa aja menurut gue yang udah terbiasa sama macetnya Jakarta. Transportasi utama yaitu Bangkok Skytrain reliable banget dan super nyaman. Gue pengen deh Jakarta punya BTS kayak Bangkok. Hostel yang gue tempatin juga enak. Udah berasa pulang kampus aja gue tiap sore dari stasiun menuju hostel.

Okay, sampai sini dulu, ya. Gue harus tidur biar bisa bangun pagi. See you tomorrow, J-Town!

Bangkok Day 2

Hello again!

Hari kedua ini adalah highlight dari perjalanan gue di Bangkok. Hari ini gue mau jalan-jalan ke Grand Palace, Wat Pho, Wat Arun, sama Asiatique. Gue bangun tidur dengan terkaget-kaget karena jam sudah menunjukkan pukul 08.40. Gue sebenernya emang gak mau pasang alarm biar let it be aja gitu. Toh gue nggak terlalu pengen pagi-pagi banget jalannya.

Setelah mandi dan pakai sunblock, jalanlah gue ke Phrom Phong Station. Gue tau kalau kereta ke Saphan Taksin harus transit dulu di Siam. Pas sampai di Siam, gue lanjut kereta ke arah Bang Wa. Turun di Saphan Taksin, gue mendengar lagu A Whole New World-nya Aladdin. Ternyata ada yang main biola di situ. Mana ganteng orangnya. Dia main biola sambil senyum lagi. Gue pengen ngasih koin tapi males buka dompet.

Dari Sathorn aka Central Pier, gue membeli tiket sekali jalan ke Tha Maharaj atau Grand Palace seharga 50 Baht. Gue pun naik perahu menyusuri sungai Chao Phraya. Sungainya biasa aja, sih. Gue jadi inget Sungai Musi di Palembang.

Setelah turun dari perahu, gue ngikutin aja kemana jalannya orang-orang karena gue yakin semuanya pasti mengarah ke Grand Palace. Oh ya, hari itu tentunya panas menyengat. Sampai di Grand Palace, ada BANYAK banget rombongan tur. Kebanyakan sih so pasti dari China. Tour guide-nya bawa bendera yang dikibar-kibarin buat ngarahin peserta tur yang banyaknya bukan main.

Setelah beli tiket seharga 500 Baht, gue masuk ke kompleks istana itu. Sebenernya tempatnya bagus banget, tapi mungkin karena teriknya matahari dan banyaknya orang, gue jadi kurang menikmati termpat itu. Gue jadi agak sayang sama harga tiketnya yang mahal. Tapi ini kan atraksi utama di Bangkok, datang ke tempat ini tetap wajib hukumnya.

Dari Grand Palace, gue membuka Google Map buat cari jalan ke Wat Pho. Ternyata deket banget. Kita cuma perlu jalan mengitari Grand Palace terus nyebrang. Tapi ya karena panasnya itu jadi terasa jauh. Sampai di Wat Pho gue duduk dulu sambil minum. Gue beli tiket seharga 100 Baht dan sudah termasuk air minum. Di pintu masuk, gue liat ada orang-orang yang berdoa.

Untuk masuk ke bangunan utama kita wajib melepas sepatu. Di depan pintunya disediain kantung plastik hijau untuk menaruh sepatu. Pas masuk, langsung terlihat Reclining Buddha yang tersohor itu. Banyak orang yang ngantri foto di depan mukanya. Tapi gue males. Jadi gue cuma foto-foto si Buddha-nya aja. Di dalam sana juga banyak orang yang lagi berdoa.

Keluar dari sana, gue googling gimana caranya mencapai Wat Arun. Gue tau kalo lokasi Wat Arun – Wat Pho itu deket tapi dipisahin sama sungai. Ternyata ada ferry yang buat nyebrang sungai, harga tiketnya cuma 4 Baht. Dari Wat Pho ke dermaganya deket banget. Naik ferry-nya juga paling lima menit.

C99FEF0D-A856-4C52-A602-6630C1DCD015.jpeg

Dari semua tempat yang gue kunjungi hari ini, gue paling suka Wat Arun. Tempatnya lebih sepi dan tiket masuknya paling murah hehe. Harganya 40 Baht. Tetep panas sih, tapi terhibur dengan indahnya candi. Kita juga bisa loh naikin candinya, tapi cuma bisa sampai tempat tertentu aja.

Sehabis dari Wat Arun, gue bingung mau ngapain lagi karena Asiatique baru buka jam 5 sore. Akhirnya gue memutuskan ke daerah Siam lagi dengan niat ngadem dan cari makan. Naik BTS siang-siang emang enak banget, sih. AC-nya kenceng, jadi mau orang sebanyak apapun tetep dingin.

Gue masuk ke mall sebelah Siam Center yang kemarin gue datengin.  Di situ gue tetep bingung mau makan apa karena semuanya kelihatan mahal huhu. Akhirnya mata gue tertuju pada Kinokuniya. Gue baca-baca disitu sambil duduk dan membawa pulang satu buku. Soal makanan, gue memutuskan buat makan di Asiatique aja soalnya pasti banyak jajanan. Buat mengganjel perut, gue beli pretzel-nya Auntie Anne. Tetep yah.

Setelah jam 5 lewat, gue balik lagi ke Saphan Taksin. Gue tau kalau ferry yang bawa kita ke Asiatique itu gratis. Di Central Pier gue nanya-nanya ke ibu-ibu kalau mau  ke Asiatique naik yang mana. Dia nunjuk orang di sebelah dia yang megang poster Asiatique 30 Baht. Gue melengos pergi gitu aja kan. Eh dia malah neriakin gue sambil marah-marah. Dih.

Gue pun berjalan lagi. Ternyata ada tanda antrian gitu tulisannya Asiatique. Gue disambut bapak-bapak yang ramah banget dan membenarkan kalau perahu yang ini memang gratis. Jadi, kalau kalian mau ke Asiatique dari Saphan Taksin, cari perahu yang ada lambang Asiatique-nya ya. Kalau yang bayar itu punya perseorangan. Lumayan kan, hemat 30 Baht.

6445488A-4741-4E08-960A-55AE6CF555B0.jpeg

Asiatique nggak seramai yang gue kira. Gue udah siap-siap dengan pengunjung yang membludak gitu, tapi ternyata cukup sepi menurut ukuran gue. Ya kayak kereta Bekasi jam 3 sore lah. Apa karena masih belum terlalu malam ya? Gue pun jalan-jalan buat cari makan. Sampailah gue ke orang yang jualan Pad Thai yang kayaknya enak banget. Harganya 120 Baht. Tanpa pikir panjang gue makan aja tuh. Pas lagi makan gue mikir mahal juga yak. Kalau di pinggir-pinggir jalan paling cuma setengahnya.

Setelah makan, gue kembali keliling-keliling. Banyak yang jual oleh-oleh khas Thailand gitu tapi gue nggak tahu Asiatique tempat yang tepat atau bukan buat beli oleh-oleh. Asik. Akhirnya gue memutuskan untuk beli oleh-oleh besok aja karena takut kehabisan uang. Kemudian gue pun mampir ke Mango Tango dan beli paket lengkapnya seharga 185 Baht. Cukup mahal, tapi memuaskan banget kok. Paket ini terdiri dari potongan mangga segar, sticky rice, pudding mangga, sama es krim mangga. Yang paling enak menurut gue pudingnya karena lembuut banget dan di atasnya dikasih whipped cream yang melimpah.

5EF61DD8-4BB8-489A-823F-CC19AECC0BF9

Setelah capek jalan dan kekenyangan, gue mau pulang aja. Di tempat turun perahu tadi ada antrian buat balik ke Central Pier. Antriannya lumayan panjang tapi surprisingly cepet banget. Gue pun kembali pulang naik BTS ke Phrom Phong Station.

Hari ini melelahkan banget tapi super menyenangkan. Gak semuanya mulus karena gue sempat kebingungan juga dari Grand Palace ke Sathorn gimana caranya. Untungnya dibantu sama bapak-bapak di Tourist Information yang baik banget. Gue dikasih peta yang pas kemudian gue cek ternyata berbahasa Korea. Jadi nggak guna deh. Oh iya, di hari kedua ini gue udah fasih banget naik BTS. Saking jagonya, gue bisa jelasin ke turis yang nanya ke gue. Udah berasa lokal aja.

Sampai di sini dulu, ya. Roommate-roommate gue kayaknya udah pada tidur. Besok rencananya gue mau ke Jim Thompson’s House, Ananta Samakhom, sama MBK. Selanjutnya gue mau explore daerah Sukhumvit aja. Sampai jumpa besok!! 😚

Bangkok Day 1

Hai semuanya!!! 🤣🤣🤣

I’m writing to you from Bangkok! Yap, sekarang gue lagi berada di tempat tidur atas sebuah hostel di daerah Sukhumvit, Bangkok. Gue pergi ke Bangkok sama siapa? Sama seseorang yang bernama No One. Di trip kali ini gue bener-bener s e n d i r i a n. Bukan berangkat sendiri terus ketemu temen di sana. Yaa walaupun gue berharap juga bisa dapet temen, sih.

Anyway, perjalanan ini direncanakan saat gue lagi galau-galaunya mau nonton konser Seventeen atau enggak. Gue mikir, apa gue mau nonton karena temen gue nonton juga? Dengan pertimbangan yang setengah matang, akhirnya gue memutuskan untuk menggunakan uang gue untuk hal lain, yaitu keliling Asia Tenggara selama dua minggu! Keinginan ini sebenernya udah lama sejak gue baca bukunya Claudia Kaunang. Walaupun akhirnya gue dibeliin tiket konser juga sih, hehe.

Jadi, rencana awalnya tuh gue berangkat dari Bangkok, terus turun ke Phuket, Krabi, Ha Yai, masuk Malaysia lewat Penang, terus ke Kuala Lumpur, Melaka, baru deh pulang lewat Singapura. Gue sampe udah research dari Bangkok ke Phuket naik pesawat apa, pilih bus dari Surath Thani jam berapa, perlu bermalam di Hat Yai atau engga, pokoknya udah lumayan komprehensif, deh!

Setelah gue beli tiket one-way CGK-DMK, gue mulai ragu akan ambisi untuk menaklukkan tiga negara dalam satu kali kunjungan. Gue takut gitu soalnya denger-denger daerah selatan Thailand sering ada konflik. Terus budgetnya jadi lumayan gede sih kalau mau pakai itinerary dua minggu itu. Secara hampir tiap hari pindah-pindah kota. Akhirnya, gue memutuskan untuk menjajal kota Bangkok saja. Tiket pulang pun dibeli. Karena milih-milih harga dan jadwal yang cocok, gue naik maskapai yang berbeda dengan waktu berangkat. Dipastikanlah gue berangkat naik Air Asia dan pulang naik Malaysia Airlines dengan transit dulu di Kuala Lumpur.

Pesawat berangkatnya take off pukul 07.05. Jadi gue bangun jam 3 pagi biar bisa berangkat jam 4. Jalanan masih sepi jam segitu. Gue sampai di bandara jam 04.30 dan ke toilet dulu sebelum check in ehehe.

Ternyata Air Asia sudah menerapkan sistem Self-Check In. Awalnya dengan pedenya gue ngantri di yang ada karpet merahnya karena sepi. Ternyata antriannya khusus buat yang mesen Priority. Dengan setengah malu gue pun pindah barisan. Tapi gue curiga kan karena semua yang ngantri bawa bagasi gede-gede. Eh pas udah sampe giliran gue, gue dikasih tau kalau konter itu tempat baggage drop aja. Check-in nya dilakukan sendiri di mesin depan konter. Mana pas nyari-nyari gue sampe ke konternya Emirates sama Singapore Airlines lagi. Lumayanlah membunuh waktu.

Setelah boarding pass didapat, gue pun bergembira karena dapat seat 6A which is di sebelah jendela. Jam 06.15 udah mulai boarding tuh. Air Asia kayaknya emang gaada garbarata jadinya semua naik bus dulu menuju pesawat.

Gue bahagia sih boarding pertama, bisa leluasa naikkin koper gue. Oh iya, karena gue nggak pesen bagasi, gue harus membatasi bawaan gue biar nggak melebihi 7kg. Sudah susah payah gue atur-atur dan ukur dimensi kopernya, eh ternyata koper gue nggak ditimbang sama sekali. Gue kira asik nih lucky juga. Tapi duduklah orang disebelah gue yang napas aja ada baunya 🤢. Untung dia tidur mulu sih.

Di pesawat gue beli Hot Meals on board-nya Air Asia, yaitu Pak Nasser’s Nasi Lemak. Ini kayaknya nasi ‘uduk’ termahal gue. Harganya 70.000 IDR sama Aqua 330ml. Rasanya enaak. Gue emang udah baca review tentang makanan-makanan Air Asia. Banyak orang yang bilang nasi lemaknya enak. Dan ternyara emang enak. Walaupun nasinya awalnya agak keasinan tapi kalau udah pake lauknya jadi pas, kok.

6F262301-2622-4E13-B572-47F5FA076BB7.jpeg

Setelah makan, gue mati gaya. Mana nggak ada inflight entertainment. Ya sudah gue mencoba tidur dengan berbagai posisi. Gue pun ke toilet untuk membunuh waktu.

73400384-B4E4-4B99-A1B1-B310EE3830EA

Akhirnya jam 10.45 pesawat mendarat di Don Mueang International Airport. Pas baru keluar pesawat, gue kaget ada rombongan pake satu stel baju training yang warnanya ngejreng banget. Gue langsung nebak mereka turis dari China. Dan ternyata benar. Gue ke toilet dan mengalami ‘keajaiban’. Mereka ganti baju nggak di biliknya dong mana rame banget lagi. Udah gitu pas gue mau pipis, pipisnya berserakan di dudukan kloset dan tentunya belum disiram. Soal berisiknya itu beda cerita ya. Ternyata stereotip turis China itu benar adanya.

Setelah nggak jadi pipis, gue pun mencari konter yang jualan SIM Card. Eh, ada yang paketnya unlimited selama 7 hari seharga 199 THB. Ya gue pilih itu lah. Apalagi nama providernya bikin baper, Ais.

Setelah paketnya diaktifin sama mbak-mbak yang cantik, gue pun keluar di Pintu 6 untuk menunggu bus ke tujuan awal gue yaitu Mo Chit station. Tapi setelah gue buka peta lagi, penginapan gue lebih deket dari pemberhentian bus yang terakhir, yaitu Victory Monument. Akhirnya gue pilih turun di situ.

6FF07B5E-00F7-40FE-899D-543605486BB2.jpeg

Dari tempat turun bus itu gue ikutin aja kerumunan orang-orang sampai stasiun BTS-nya. Gue pun beli tiket ke Phrom Phong station. Penginapan gue cuma berjarak 500m dari stasiun dan sangat mudah dijangkau. MonkeyNap Hostel surprisingly bangus dan nyaman banget. Petugasnya juga ramah-ramah dan akomodatif.

Setelah check-in, gue memutuskan untuk langsung ke Chatuchak Market. Gue balik lagi ke arah Mo Chit. Itu udah jam 3 sore tapi masih panas menyengat. Gue pun membeli es krim kelapa yang enak banget! Sangat-sangat recommended deh. Harganya 40 Baht dan itu dapat es krim dua scoop sama free topping yang banyak banget pilihannya. Es itu disajikan di mangkuk kelapa yang masih ada dagingnya. Sayangnya gue nggak sempat foto karena keburu habis saking doyannya. Gue pun kembali berburu jajanan. Gue beli Garlic Toast, Fish Ball, sama mampir di warung makan rice noodle yang enaak banget dam pemiliknya super ramah. Awalnya dia kira gue orang Thai mangkanya ngajak ngomong pake bahasa Thailand.

Setelah dari Chatuchak, gue berencana ke daerah Siam karena sekalian jalan pulang. Di Siam Center, gue mengunjungi Åland yang datang dari Seoul itu. Gue mau tahu di Bangkok ada COSRX-nya juga atau enggak. Ternyata ada, tapi sayang nggak ada price list kayak produk lain. Gue mulai bosan. Akhirnya gue ke Watson buat beli belasan bedak sejuta umat. Tadaa!

A754D82B-D53E-4A5A-8E47-FF4A9B837F36.jpeg

Itu yang gue foto tipe-tipenya doang ya. Jumlahnya lebih dari itu.  Akhirnya gue pulang deh sambil beli gorengan di jalan ke hostel. I know, gue makan mulu hari ini. Tapi gue berhasil jalan kaki sebanyak 18.000 langkah jadinya sepadan lah ya.

Jalan-jalan sendirian gini ternyata ada tantangannya. Gue iseng banget pengen ngobrol. Sementara roommate-roommate gue kelihatannya nggak pengen diganggu gitu. Kalo ngeliat sesuatu yang lucu gue nggak bisa mencurahkannya. Pret. Tapi ya semuanya emang ada plus minusnya sih. Misalnya aja kalau gue jalan sama keluarga, gue suka males karena pace mereka yang gue anggap lambat.

Oke deh, segitu dulu untuk rekap hari ini. Udah jarang banget gue ngeblog. Selama trip ini tiap malem gue bakal nulis. Dan juga banyak ide-ide postingan lainnya yang bakal gue tulis karena my life has been a rollercoster lately. Besok gue berencara untuk ke Grand Palace dan sekitarnya. See you tomorrow!

Luminescence ke Jogja!

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu seangkatan tiba juga! Setelah beres UN dari tanggal 13 April, lusanya kita bakal pergi ke Jogja. Sebenernya, itinerary trip kali ini mirip banget sama waktu gue SMP dulu. Berhubung gue nggak ikut hampir semua kegiatan waktu perpisahan SMP, gue lumayan bersyukur bisa ngerasain pas SMA hehe.

Perjalanan kita dimulai di Stasiun Pasar Senen. Kita janjian sampe sana jam 9 malam untuk kemudian boarding bareng-bareng jam setengah sebelas. Ini pertama kalinya gue ke Stasiun Pasar Senen. Kesannya? Rame banget. Rombongan kita aja udah banyak. Lah ini satu peron isinya orang semua.

Karena gue jarang naik kereta, apalagi kereta jauh, gue nggak tau apa-apa tentang keretanya. Gue pernah ke Surabaya naik kereta malam dan gerbongnya lumayanlah. Tempat duduknya susunan 2-2 dan cukup lengang walaupun jarak antar kaki tetep sempit sih. Gue kira kereta yang bakal gue naikin nggak beda jauh sama itu. Tapi gue lupa kalau kereta ke Surabaya itu bukan kereta ekonomi.

Jadilah gue surprised waktu masuk gerbong. Tempat duduknya berhadapan dan konfigurasinya 3-2. Gue satu row mepet banget sama Azzah dan Iris. Depan gue ada Avy, Askal, dan Labib. Argh, mana gue bisa tidur? 😦

Malam itu tentunya gue nggak tidur. Merem sih. Tapi masih bisa denger semuanya dan ngerasain terguncang-guncang di kereta. Perjalanan berasa lamaa banget. Gue sampe tahan-tahan biar nggak banyak minum soalnya tau sendiri kan, toilet kerta kayak gimana?

Jam 5 pagi perjalanannya mulai menarik. Matahari mulai keluar dan terlihatlah samping kiri-kanan kereta terhampar sawah yang tiada berujung. Lumayan menyegarkan mata walaupun masih ngantuk-ngantuk.

Akhirnya kita sampai di Stasiun Lempuyangan jam 6 lewat sedikit. Di sana kita udah disambut dengan dua bus yang akan menemani kita selama di Jogja. Di bus kita dikasih sarapan Gudeg Yu Djum. Gue belum pernah makan gudeg nih hahaha cuma denger-denger doang. Ternyata rasanya manis banget, saudara-saudara! Bener-bener kayak makan coklat pake nasi. Jadinya gue cuma makan nasi pake ayam suwirnya.

Destinasi pertama kita itu Gua Pindul. Perjalanannya lumayan jauh dan menanjak gitu. Sampai di lokasi, kita masih harus naik kendaraan yang gue lupa namanya, pokoknya dia mobil bak terbuka yang dikasih palang di belakangnya buat pegangan orang-orang yang berdiri. Baru naik itu aja udah seru.

Sebelum turun ke sungai, kita di briefing singkat dan dipersilakan memilih pelampung dan bannya. Ternyata arus sungainya pelan banget. Gue kira bakal menegangkan gimana gitu. Kita naik ke ban itu dan pegangan selama menyusuri gua biar barisannya nggak putus. Di gua itu suasananya dingin dan banyak kelelawar di atapnya. Ada guide-nya juga yang ngejelasin apa-apa aja yang terlihat di gua itu.

Di pertengahan jalan, ada tebing pendek buat loncat gitu. Gue pengen coba tapi takut ketinggalan rombongan soalnya temen gue gaada yang nyoba. Di akhir perjalanan kita dibolehin nyebur yeay! Enak banget berenang dingin-dingin gitu. Walaupun bentar sih. Temen gue ada yang kehilangan kacamata dan sendal waktu nyebur itu so hati-hati ya guys.

Setelah bilas badan seadanya, kita lanjut ke Pantai Drini. Awalnya gue kurang ngeh sama namanya, apaan tuh dreamy? Ternyata Drini hehe. Sampai di sana panas banget huahaha. Gue udah re-apply sunblock aja masih perih-perih sesudahnya. Bingung juga mau ngapain di pantai? Udah males basah-basahan. Rame pula banyak anak kecil huh.

Akhirnya gue dan beberapa orang cari tempat yang lebih sepi tapi ombaknya lebih gede. Setelah celup-celup kaki dan hilir-mudik nggak ada tujuan, kita memutuskan untuk liat-liat jajanan. Di situ dijual aneka seafood goreng. Ada ikan kecil-kecil, udang, cumi, dan lainnya. Gue beli cumi goreng seperempat kilo gile enek banget makannya hahah. Cuminya enak tapi banyaknya itu. Untung banyak yang mau ngabisin.

Setelah dari pantai, bus kembali ke kota buat naruh barang di hostel. Sebenernya acara hari itu udah selelsai, tinggal makan malam di angkringan aja. On the side note, angkringan yang kita kunjungin itu nggak begitu worth it. Nggak semurah itu dan makanannya biasa aja, setidaknya menurut gue yang nggak suka masakan Jawa. Apalagi gue yang “salah” pilih makanan, yaitu sate telur, sate kerang dua, dan telur areh. Setelah makan sekantong cumi goreng sore tadi gue jadi mencemaskan kadar kolesterol dalam tubuh gue.

Oh iya, di hostel itu dibagi sekamar berenam. Gue sekamar sama Rizna, Nisa, Kartika, Fariidah, sama Dwi. Berhubung gue udah pernah nginep di situ sebelumnya, jadi no comment lah ya. Temen-temen sekamar gue masih lanjut jalan-jalan sehabis dari angkringan itu sementara gue udah tepar mampus karena nggak tidur kemarin malamnya.

Paginya setelah sarapan, kita melanjutkan perjalanan ke Gunung Merapi! Again, perjalanannya lumayan jauh tapi banyak pemandangan bagusnya. Sampai di lokasi, udah berjejer jip-jip terbuka yang biasa buat off road. Gue satu jip sama Rifa, Dhea, dan Umar.

IMG_3671

Perjalanannya seruu banget! Apalagi yang bawa jip gue kagak takut mati hahahah. Ada jalan mulus, malah dipilih yang berbatu dan miring-miring. Kita berhenti di tiga spot. Museum yang menampilkan barang-barang korban letusan, batu wajah (kalau nggak salah namanya ini), dan bunker. Di setiap spot pastinya foto-foto dulu.

Setelah puas naik jip, kita balik lagi ke bus. Di dekat bus ternyata ada tukang es dawet. Baru mau beli eh ternyata bapaknya Avy ngetraktir ehehe. Es dawetnya enak banget. Pas gitu rasa manisnya dan setelahnya nggak bikin tenggorokan gatel.

Kita makan siang di bus sambil menuju ke workshop oleh-oleh kaus. Di sana dijelasin proses pembuatan kausnya dan tentunya ditutup dengan kunjungan ke toko. Gue sih emang males belanja dan ngeliat koleksinya nggak ada yang buat gue jatuh hati. Akhirnya duduk-duduk aja deh sambil nunggu yang lain.

Setelah itu, bus kembali menuju hostel dan acara free lagi sampai makrab nanti jam 8 malam. Gue (lagi-lagi) memilih jadi kuncen kamar sambil bobo-bobo sore. Jam 8 malam, acara makrab di mulai. Setelah makan malam, ada acara tuker kado. Gue dapet tempat minum kaca yang bagus yashh. Acara dilanjutkan dengan angket, kesan-pesan, dan tentunya, foto-foto sampai jam 12 malam.

IMG_3780

Besoknya, acara bener-bener free dari pagi sampai siang. Bebas mau kemana aja, pokoknya sebelum jam 12 siang udah balik untuk check out. Gue yang bingung mau ngapain, akhirnya ikut rombongan yang bingung juga mau kemana. Akhirnya kita ke keraton naik Grab. Setelah nyampe kita bingung kok sepi gini. Mana banyak tukang becak yang nawarin maksa keliling-keliling. Lalu kita naik Grab lagi ke Malioboro. Di situ kita ketemu Dika, Oka, sama Zul. Kita pasrah aja ngikutin mereka.

Setelah itu kita ke suatu benteng yang tiket masuknya 3000 perak. Agendanya foto-foto doang sih tapi tempatnya lumayan bagus.  Setelah itu bingung lagi mau kemana. Gue ngusulin buat makan es krim di Tempo Gelato di Prawirotaman. Untungnya pada mau. Lagi-lagi naik Grab yang ngebolehin kita bertujuh naik.

Tempo Gelato tempatnya bagus dan homey banget. Sebelumnya gue udah baca review-nya di internet dan memutuskan gue harus ke sini kalau ke Jogja. Waktu itu nggak terlalu ramai dan langung aja gue ke kasirnya buat pilih gelato 2 scoop pakai cone. Ada banyak pilihan rasa. Gue menjatuhkan pilihan pada green tea dan salted caramel. Salted caramel-nya sumpaah enak banget! Rasanya susu tapi gurih-gurih gitu.

Setelah makan siang dan beli bekal buat di kereta, kita balik ke hostel untuk check out. Perjalanan hari itu disponsori oleh Grab banget yang kebetulan ada diskon 10 ribu untuk 10 perjalanan. Nggak mau rugi, hari itu kita naik Grab tujuh kali.

Di perjalanan pulang ini gue duduk sama Tanti, Nada, Rifa, Alfa, dan Miss Durra. Duduknya sebenernya lebih dinamis karena masih sore kan jadi banyak yang jalan-jalan sambil ngegosip antar gerbong. Entah kenapa, gue merasa perjalanan pulangnya lebih lama dari berangkat. Mana di Cikarang sempat berhenti lama banget karena (katanya) nabrak orang. Akhirnya keretanya sampai di Stasiun Jatinegara jam 2 pagi. Yeah. Besoknya hari itu ada pemilu dan hari pertama gue intensif!

All in all, tripnya seruu! Terima kasih buat panitia yang capek-capek ngurusnya. Gue nggak tahu kalau gue desperately need vacation banget sampe ngerasain sendiri. See you in another chance, Lumi!

[REVIEW] Biore UV Aqua Rich Watery Essence SPF 50+ PA++++

Hi, guys! I’m back for another review! 💞💞

Produk yang mau aku review kali ini adalah step terakhir dari rangkaian perawatan kulit, yaitu sunscreen. Awalnya aku tuh semacam ngeyel gitu, nyepelein pentingnya pakai sunscreen. Secara aku hidupnya di dalam ruangan terus, hehe. Tapi, setelah baca banyak artikel, aku sadar kalau pakai sunscreen itu hukumnya wajib! Walaupun kamu berada di dalam ruangan, sinar matahari bisa tembus melalui kaca jendela. Intinya, mau panas atau mendung, wajib pakai sunscreen!

Kenapa? Karena paparan sinar matahari berlebih itu bisa menyebabkan kanker kulit. Juga bisa menimbulkan banyak dark spot dan membuat kulit kamu mengalami penuan dini. Nggak mau kan, umur masih dua puluhan tapi udah banyak bintik-bintik dan kerutan di daerah mata? Dan juga, karena kiblat aku Korean/Asian Beauty, mereka mengedepankan banget kulit sehat yang terlindungi. Jadi, nggak ada itu ceritanya kulit tanned karena malas pakai sunscreen atau malah sengaja pakai tanning machine. Hii. I know beauty is a choice. Mau kulit fair atau tan jelas pilihan masing-masing. Yang aku tekankan di sini adalah pentingnya menjaga kulit dari bahaya sinar matahari.

Okedeh. Terus, gimana caranya memilih sunscreen yang benar-benar bisa melindungi kulit kamu? Dari banyaknya varian di pasar mungkin akan membingungkan. Tetapi kita harus telaah dulu apa yang kita inginkan dari sunscreen itu. Ada dua macam sunscreen, yaitu physical dan chemical. Bedanya dari segi perlindungan, physical sunscreen ini melindungi kulit secara fisik #yaiyala. Maksudnya, akan ada seperti tameng gitu yang melapisi kulit kamu. Karena fisik, sunscreen ini biasanya agak tacky dan ada sedikit white cast-nya. Sunscreen jenis ini cocok untuk kulit yang sensitif karena tidak secara langsung bereaksi dengan kulit. Gimana caranya kita tahu kalau itu sunscreen fisika? Lihat ingredient list-nya, kalau ia mengandung Zinc Oxide atau Titanium Oxide – atau keduanya, bisa dipastikan itu physical sunscreen.

Bagaimana dengan chemical sunscreen? Biasanya dia tidak mengandung kedua bahan itu, hehe. Ia menggunakan Ethylhexyl methoxycinnamate sebagai pelindungnya. Sunscreen ini memang lebih ringan daripada yang fisika, cocok untuk kulit berminyak dan tidak menimbulkan white cast. Biasanya sunscreen jenis ini juga mengandung alcohol sebagi top ingredient list-nya, mangkanya dia bisa cepat menyerap. Bagi kamu yang sensitif terhadap alkohol, hindari memakai sunscreen jenis ini.

Selanjutnya, gimana caranya mengetahui ‘kekuatan’ sunscreen itu sendiri? Apa parameternya? Berapa lama ia bisa melindungi kita? Nah, selengkapnya bisa dibaca di sini, sudah dijelaskan dengan lengkap apa itu SPF, PA, UVA, UVB, dan sebagainya.

Okay, back to the review! Sebenarnya cuma satu alasan aku memilih Biore sebagai sunscreen pertama aku, because so many people raved about this product! Nggak tahan, kan, kalau nggak coba. Akhirnya aku beli online di Lazada. Cepet banget datengnya, order hari Rabu, Jumat-nya udah dateng. Bisa COD pula.


Di lihat dari komposisinya, Biore ini termasuk sunscreen kimia. Untuk lengkapnya bisa dilihat analisisnya di sini.

Penampilannya simpel, dominan biru dengan warna putih sebagai tutupnya. Ukurannya juga kecil dan sangat travel friendly.


Seperti namanya yang mengusung konsep Watery Essence, teksturnya ringan banget. Sangat mudah diaplikasikan, nggak lengket sama sekali, dan cepat menyerapnya. Menurut aku yang kulitnya tipe kombinasi cenderung berminyak, sunscreen ini bisa membuat wajah jadi matte selama 6 jam tanpa menggunakan apapun setelahnya. Kalau mau menggunakan make up, sangat bisa karena dia menyiapkan tekstur yang smooth untuk wajah kamu.

Sunscreen ini bisa digunakan untuk wajah dan juga tubuh. Wanginya sarat alkohol agak seperti jeruk kalau menurutku. Kalau kamu nggak suka wewangian, mungkin ini harus dipertimbangkan karena wanginya bertahan cukup lama.

Oh ya, kalau kamu terpapar sinar matahari secara konstan, wajib reapply setelah dua jam.

Plus:

  1. Harganya murah, berkisar 89-97 ribu rupiah, tergantung olshopnya.
  2. Tekstur ringan banget dan cepat menyerap.
  3. Tidak menimbulkan white cast.
  4. Tidak menyebabkan wajah berminyak.
  5. Perlindungannya oke, dengan SPF 50+ dan PA++++.

Minus:

  1. Kandungan alkoholnya cukup tinggi.
  2. Wanginya agak menggaggu.
  3. Jarang ditemukan di toko-toko, belinya biasanya on line.

Will I repurchase? Yes! Overall, aku suka sama sunscreen ini. Tapi aku mau mencoba sunscreen dari COSRX dan DEAR KLAIRS juga, karena aku memang lebih condong ke suncreen fisika. Selamat menentukan pilihan!

OIC Season 4

Morning, happy people!

Dua hari yang lalu, gue bersama 17 temen gue berangkat ke Institut Bisnis Nusantara untuk shooting Olimpiade Indonesia Cerdas RTV! Yang ikut lombanya cuma tiga orang. Terus 15 orangnya ngapain? Jadi suporter! Sebenernya ini udah kali kedua gue jadi suporter OIC. Tapi yang pertama gue lupa cerita di blog dan udah agak lupa, hehe. Makanya gue janji kalau gue jadi suporter lagi, gue harus tulis pengalaman gue di sini. Kebetulan, yang kedua ini jauh lebih seru!

Kita dapet jadwal sesi kedua, mulainya sore. Tapi belum tahu tuh jam berapa. Kita berangkat jam 2 dari sekolah. Sampai di sana belum jam 3. Ternyata sesi pertama juga belum selesai, mereka lagi break gitu. Langsung waswas, mau mulai jam berapa kita?

Waktu menunggu kita dihabiskan sambil nonton yang lagi on air di TV luar. Ada SMA dari Malang, Tangerang, dan satu lagi lupa. Lawan kita sendiri itu dari SMA Kesatuan Bangsa di Jawa Tengah sama SMAN 6 Palembang. Jauh-jauh banget, ya.


Akhirnya kita masuk studio jam 5 sore. Itupun masih lama banget mulainya. Anak-anak KesBang masuk dengan seragam merah ala Pasiad yang hits banget. Cowok semua suporternya. Lumayan menyegarkan mata gue nih ahaha. Mata gue yang awas tentu sudah menotice mana yang layak dinotice. #apasih
Mulai shooting udah mendekati jam enam. Rencananya kita shoot 1,5 scene dulu, break Magrib, baru lanjut shooting sampai waktu yang tidak ditentukan.

Babak pertama Cepat Tepat. MHT ngerebut banyak poin di situ dan berhak menentukan alur pertandingan selanjutnya. Setelah itu ada babak apa ya, semacam tebak gambar gitu. MHT pilih kategori negara dan berhasil ngumpulin 40 point. Salah satu aja sebenernya, tapi kehilangan kesempatan dapetin bonus 20 point.

Tim KesBang berhasil meraup full score 70 point! Dari situlah gue baru tahu betapa dewanya mereka. Mereka yang main ada medalis Kimia, medalis Geografi, juga medalis Astronomi DAN Ekonomi. I repeat. Astronomi DAN Ekonomi. Yang main itu cuma bertiga, loh. Tapi medalinya ada empat. Dari pelajaran yang berbeda pula. Suporternya aja ada yang medalis Fisika. Di situ gue merasa ngeri.

Sempat kasihan juga sama tim Palembang. Mereka ke Jakarta cuma sama guru pembimbingnya, no suporter. Akhirnya mereka di suport sama suporter bayaran mas-mas sama mbak-mbak yang udah tua gitu omaygat.

Oh iya, kita berhasil meraup semua kesempatan dapat uang di situ! Dari Ice Breaking 1 & 2, juga menjuarai suporter terheboh. Yayyy akhirnyaa!


Babak terakhir, seperti biasa, Kotak Katik. Nggak cuma pesertanya, suporternya juga harus all out di sini. Untungnya urat malu udah putus semua. Di babak ini cukup mengejutkan ternyata. Sebelumnya kita selalu mengandalkan babak ini buat dapetin poin penutup sebanyak-banyaknya, buat sweet victory gitu. Tapi kemarin kita kewalahan banget. Entah kurang beruntung milih kotak atau kurang strategi.

Shooting selesai pukul 9.30 malam dan MHT berhasil lolos ke semifinal nasional! Tinggal dua langkah lagi untuk merebut uang 50 juta rupiah. Di tahap selanjutnya harus berjuang banget, nih, soalnya pesertanya sekolah kelas berat semua! Walaupun lolos, kita kalah cukup banyak poin dari Kesatuan Bangsa. Ini harusnya jadi alarming bahwa lawan-lawan kedepannya nggak akan mudah.

All in all, hari itu berjalan seru banget walaupun capeknya setengah mati. Pulangnya kita drive thru di McD pakai uang hasil suporter terheboh. Soo happy!

Good luck, yaa untuk Avy, Haryo, dan Rofian yang akan berjuang Senin depan! All prayers goes to you, guys! Semoga bisa mengangkat nama MHT dan jadi sejajar sama sekolah-sekolah hebat lainnya. We’re waiting for good news!

[REVIEW] Etude House Dear Darling Lip Tint #GrapeRed

Hi! I’m back for my first review!

Produk pertama yang mau aku bahas itu produknya Etude House, Dear Darling Lip Tint. Semua pasti udah tahu brand satu ini lah, ya. Udah banyak counter-counternya di Jakarta. Apalagi di olshop, produknya udah menjamur banget. Etude House ini terkenal dengan konsep dan desainnya yang cute abis dan princess alike. Produk pertama EH yang aku cobain itu BB Cream-nya. Lumayan cocok sama aku walaupun shade-nya kurang sesuai, hahaha. Maklum, namanya masih newbie.

Kalau liptint, siapa sih yang nggak tahu. Sebenernya aku juga baru-baru ini aja pake liptint. Sebelumnya aku nyobain punya teman aku yang Tony Moly itu. Hasilnya pigmented dan bibir nggak ngerasa pakai apa-apa. Natural aja gitu. Selanjutnya barulah aku beli liptint pertamaku, si Dear Darling ini.

Aku beli di Althea. Seperti yang udah aku bilang di post sebelumnya, online shop ini recommended banget karena harga-harga produknya jauh lebih murah dibanding harga di konter Indonesia. Harga liptint ini murah banget juga, Rp46.000,00 untuk ukuran 5g. Ada banyak pilihan warnanya; Real Red, Berry Red, Orange Red, Vampire Red, Cherry Red, Plum Red, dan Grape Red. Sempat bingung mau pilih yang mana karena shadenya merah semua. Akhirnya aku pilih yang Grape karena ada a hint of orange gitu, walaupun nggak se-oranye yang Orange. #yaiyalah


Beginilah penampakannya.

Aku naksir abis sama packaging-nya. Tall and slim and super cute! Cap-nya juga warna pink.


Begitulah bentuk aplikatornya.

Teksturnya ini jelly-like. Lebih kental dari punya Tony Moly. Dan wanginya itu, loh. Minta dimakan banget. Aku rasa semua liptint wanginya memang agak-agak mirip grape atau cherry gitu.

Aplikatornya juga mudah digunakan. Aku pernah pakai full lip dan suka banget! I think I rock red lipstick but didn’t find any occasion for me to wear any. Huhu.

Untuk penggunaan sehari-hari, aku pakai tipis-tipis aja. Aplikatornya aku ‘tiriskan’ dulu di ujung botolnya, supaya nggak kebanyakan. Setelah liptint, aku pakai lipbalm transparan karena bibirku itu kering banget.

Surprisingly, mengingat harganya yang murah, ternyata ini cukup pigmented dan tahan lama. Aku pakai dari jam 6 pagi warnanya masih ada sampai jam 12 siang. Tentunya dengan catatan kamu makan-minum seadanya dan nggak pernah mengelap bibir. Setelah jam 1, masih ada sedikit warna meskipun jauh berkurang. Tenang, selalu bisa di re-apply, kok.

Liptint ini nggak menyebabkan reaksi negatif di bibir aku. Tapi kalau kamu punya bibir kering atau bahkan pecah-pecah just like mine, please use lipbalm before of after application! Aku sendiri lebih suka pakai setelahnya karena memberikan kesan glossy.

Pros:

  • Harganya murah banget.
  • Banyak pilihan warnanya.
  • Aplikator mudah digunakan.
  • Wangi!
  • Pigmented.
  • Tahan lumayan lama.

Cons:

  • Bikin bibir kering kalau kamu nggak pakai lipbalm.
  • Pahit kalau nggak sengaja terjilat, hehe.

Overall, aku suka sih, sama liptint ini. Will I repurchase? Yes! Aku mau coba yang Vampire Red abis ngeliat temanku yang pakai itu dan warnanya cute banget!

Sampai ketemu di review selanjutnya!

Kishkishkish

😘😘😘